Senin, 23 April 2012

Pendekatan, Metode, Teknik, dan Prosedur Pembelajaran Bahasa


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Bahasa sangat pentintg dalam kehidupan. Dengan bahasa kita dapat menyampaikan keinginan pendapat dan perasaan. Dengan bahasa pula kita dapat memahami dan mengetahui apa yang terjadi di dunia dan lingkungan sekitar. Setiap orang memiliki kemampuan berbahasa.
Seiring kita jumpai anak yang pandai bercerita dengan susunan kalimat yang benar sehingga orang yang mendengarkannya dapat menerima, memahami jalan cerita tersebut, ternyata anak tersebut belum sekolah.
Namun, ketika anak mulai sekolah dan mendapat pelajaran bahasa, keadaan menjadi terbalik. Bahasa yang semula merupakan hal yang mudah dan mengasyikkan berubah menjadi pelajaran yang sulit (Goodman, 1986). Orang tua mengeluh tentang anaknya yang mendapat nilai kurang untuk pelajaran Bahasa Indonesia.
Pelajaran bahasa yang seharusnya menyenangkan dan mengasyikkan ternyata jauh dari harapan. Untuk memperbaiki pengajaran bahasa perlu adanya pendekatan, metode, teknik dan prosedur yang sesuai dengan pembelajaran.
B.   Rumusan masalah
Mengacu pada latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah tersebut diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam pembahasan makalah ini adalah :
Bagaimana pendekatan, metode, teknik dan prosedur yang sesuai dengan pembelajaran bahasa.

C.   Tujuan Pembahasan
Tujuan yang hendak dicapai dalam makalah ini adalahbMengetahui pendekatan, metode, teknik dan prosedur yang sesuai dengan pembelajaran bahasa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pendekatan
a.     Pengertian Pendekatan dalam Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat diartika sebagai sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pendangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih secara umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis terentu. Pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menengahi hakikat pengajaran dan pembelajaran bahasa. Pendekatan itu bersifat aksiomatik (dapat diterima sebagai kebenaran, tanpa pembuktian), Tarigan (1989:11).
Pendekatan dalah seperangkat asumsi, persepsi, keyakinan dan teori tetanng bahasa dan pembelajaran yang menjiwai keseluruhan proses belajar dan berbahasa, Nunan (1990:12). Istilah pendekatan dalam pembelajaran bahasa mengacu pada tiori-tiori tentang hakekat bahasa dan pembelajaran bahasa yang berfungsi sebagai sumber landasan atau prinsip pengajaran bahasa. Pendekatn adalah seperangkat asumsi yang saling berhubungan yang menyangkut sifat bahasa, pengajaran bahasa dan belajar bahasa, Anthony (1963).
b.     Macam-macam Pendekatan
1)            Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa bermula dari suatu teori yang berlandaskan “bahasa sebagai komunikasi”, Tarigan (1989:280).
Pendekatan komuikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemamuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Tampak bahwa bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah tetapi lebih luas lagi, yakni sebagai sarana untuk komunikasi. Ini berati, bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi komunikatif. Menurut Littlewood (1981) pemikiran pendekatan komunikatif didasarkan pada pemikiran bahwa:
a)            Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang lebih luas tentang bahasa. Hal ini terutama menyebabkan orang melihat bahwa bahasa tidak terbatas pada tata bahasa dan kosakata, tetapi juga pada fungsi komuikatif bahasa.
b)            Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang lebih luas dalam pembelajaran bahasa. Hal ini menimbulkan kesadaran bahwa mengajarkan bahasa tidak cukup dengan memberikan kepada siswa bagaimana bentuk-bentuk bahasa asing, tetapi siswa harus mampu mengembangkan cara-cara menerapkan bentuk-bentuk itu sesuai dengan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi dalam situasi dan waktu yang tempat.
2)           Pendekatan kognitif
Istilah “pendekatan kognitif” atau “cognitive approaches”, biasa juga dsebut sebagai “cognitive cole” (Krashen 1986: 132; Stenberg 1986: 192), “kognitif theory” (Stern 1987: 469).  Teori atau metode ini telah diinterpretasikan o;eh beberapa pakar sebagai “teori terjemahan tata bahasa yang mutakhir, yang telah dimodifikasi”, (Caroll 1966:102).
Kognitif merujuk kepada kegiatan mental seperti berfikir, menganalisis, membentuk konsep, menyelesaikan masalah dan sebagainya. Pendekatan kognitif merupakan pendekatan yang memberi perhatian khusus kepada proses pemikiran individu seprti kemahiran berfikir secara kritis dan kreatif, kemahiran belajar dan motivasi yang dipelopori oleh ahli psikologi Gestalt, Piaget, Vygostsky, Gagne, Buner dan Ausubel.
3)           Pendekatan Tujuan
Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar menngajar, yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu dapat ditentukan metode mana yang ka digunakan dn teknik pengajaran yang bagaimana yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebu dapat dicapai. Jadi, proses belajar menajar ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapakan untuk tujuan itu sendiri.
4)            Pendekatan terpadu
Pendekatan pembelajaran terpadu adalah seperangkat asumsi yang berisikan wawasan dan aktifitas berfikir dalam merencanakan pembelajaran dengan memadukan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan sebagai area isi kegiatan belajar mengajar.
Pendekatan Integratif atau terpadu adalah rancangan kebijaksanaan pengajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu, yaitu dengan menyatukan, menghubungkan atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau terpisah-pisah. Pendekatan terpadu terdiri dari dua macam :
a)            Integratif Internal yaitu keterkaitan yang terjadi antara bahan pelajaran itu sendiri misalanya pada waktu pelajaran bahasa dengan fokus menulis kita bisa kaitkan dengan membaca dan mendengarkan juga.
b)            Integratif Eksternal yaitu keterkaitan antara bidang studi yang satu dengan bidang studi yang lain, misalalnya bidang studi bahasa dengan sains dengan tema lingkungan maka kita bisa meminta siswa membuat karangan atau puisi tentang banjir untuk pelajaran bahasanya untuk pelajarn sainsna kita bisa menguungkan dengan reboisasi atau jug pencemaran sungai.
5)            Pendekatan struktural
Pendekatan struktural merpakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa, yang dilandasi oleh asumsi bahwa bahasa sebagai seperngkat kaidah, norma, dan aturan. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa perlu dititik beratkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, morfologi, dan sintaksis dalam hal ii pengethuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting. Jelas bahwa aspek kognaitif bahasa lebih diutamakan.
6)            Pendekatan dalam pembelajaran bahasa
Dalam istilah belajar mengajar, kita mengenal pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. ketiga istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda walaupun dalam penerapannya ketiga-tiganya saling berkaitan. Ramelan (1982) mengutip pendapat Anthony yang mengatakan bahwa pendekatan mengacu pada seperangkat asumsi yang saling berkaitan dan berhubungan dengan sifat bahasa serta pengajaran bahasa. Pendekatan merupakan dasar teoritis untuk suatu metode. Asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi yang menganggap bahasa sebagai kebiasaan; ada pula yang menganggap bahasa sebagai suatu sistem komunikasi yang pada dasarnya dilisankan; dan ada lagi yang mengangga bahasa sebagai seperangkat kaidah.
Asumsi-asumsi tersebut menimbulkan adanya pendekatan-pendekatan yang berbeda, yakni :
(1)  Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa berarti berusaha membiasakan diri menggunakan bahasa untuk berkomuikasi. Penekanannya ada pada pembiasaan.
(2)  Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa berarti berusaha untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan. Tekanan pembelajarannya terletak pada pemeroleha kemampuan komunikasi.
(3)  Pendekaan yang mendasari pendapat bahwa dalam pembelajaran bahasa yang harus diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah yang mendasari ujaran, tekanan, pembelajaran pada aspek kognitif bahasa, bukan pada kemampuan menggunakan bahasa (Zuchdi, 1997)
Pendekatan apapun yang dipilih guru dalam melaksanakan program KBM, pada dasarnya tuntutan untuk menempatan siswa sebagai pusat perhatian dan perlakuan sangat utama.
Dalam merancang KBM bahasa Indonesia terdapat beberapa pendekatan yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berkut,
a)    Pendekatan Whole Language
Whole Language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang didasari oleh paham cntructivism. Dalam Whole Language bahasa diajarkan secara utuh, tidak terpisah-pisah; menyimak, berbicara, membaca, dan menulis diajarkan secara terpadu sehingga siswa dapat melihat bahasa sebagai suatu kesatuan
Komponen-Komponen Whole Language
Whole Language adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran dan tentang orang-orang yang terlibat dalam pembelajara. Orang-orang yang dimaksud adalah siswa dan guru. Whole Language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan dimana bahasa diajarkan secara utuh dan keterampilan bahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis) diajarkan secara terpadu. Anda da[at mencoba menerapkannya dengan mengetahui komponen-komponen yang tedapat dalam Whole Language.
Menurut Routman (1991) dan Froese (1991) ada delapan komponen Whole Language, yaitu :
  1. Reading aloud
  2. Journal writing
  3. Sustained silent reading
  4. Shared reading
  5. Guided reading
  6. Guided writing
  7. Independent reading
  8. Independent writing
Nah sekarang mari kita pelajari komponen Whole Language tersebut satu per satu. Mari kita mulai dengan reading aloud.
Reading aloud
Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya. Guru dapat menggunakan bacaan yang terdapat dalam buku teks atau buku cerita lainnya dan membacakannya dengan suara keras dan intonasi yang baik sehingga setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati ceritanya. Kegiatan ini sangat bermanfaat terutama jika dilakukan di kelas rendah.
Manfaat yang didapat dari reading aloud, antara lain : meningkatkan keterampilan menyimak, memperkaya kosa kata, membantu meningkatkan membaca pemahaman, dan yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan minat baca pada siswa. Reading aloud juga dapat dilakukan dan baik dilakukan di kelas tinggi. Reading aloud dilakukan setiap hari saat mulai pelajaran.
Journal writing
Journal writing atau menulis jurnal. Bagi guru yang menerapkan Whole Language, menulis jurnal adalah komponen yang dapat dengan mudah diterapkan. Jurnal merupakan sarana yang aman bagi siswa untuk mengungkapkan perasaannya, menceritakan kejadian di sekitarnya, membeberkan hasil belajarnya, dan menggunakan bahasa dalam bentuk tulisan.
Menulis jurnal bukanlah tugas yang harus dinilai namun guru berkewajiban untuk membaca jurnal yang ditulis anak dan memberi komentar atau respons terhadap tulisan tersebut sehingga ada dialog antara guru dan siswa.
Banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan menulis jurnal ini. Manfaat tersebut, antara lain sebagai berikut :
  1. Meningkatkan kemampuan menulis. Dengan menulis jurnal siswa akan terbiasa mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan yang kemudian membantunya untuk mengembangkan kemampuan menulis.
  2. Meningkatkan kemampuan membaca. Siswa secara spontan akan membaca hasil tulisannya sendiri setiap ia selesai menulis jurnal.
  3. Menumbuhkan keberanian menghadapi resiko. Menulis jurnal bukanlah kegiatan yang harus dinilai maka siswa tidak perlu takut untuk berbuat salah. Kesempatan ini dapat digunakan sebagai sarana untuk bereksplorasi.
  4. Memberi kesempatan untuk membuat refleksi. Melalui jurnal siswa dapat merefleksi apa yang telag dipelajarinya atau dilakukannya.
  5. Memvalidasi pengalaman dan perasaan pribadi. Kejadian apa saja yang dialami oleh siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah dapat diungkapkan dalam jurnal. Dengan menghargai apa yang ditulis siswa akan membuat siswa merasa dihargai.
  6. Memberikan tempat yang akam dan rahasia untuk menulis. Terutama untuk siswa kelas tinggi, jurnal adalah sarana untuk mengungkapkan perasaan pribadi. Jurnal ini sering disebut diary atau buku harian. Untuk jurnal jenis ini siswa boleh memilih apakah guru boleh membaca jurnalnya atau tidak.
  7. Meningkatkan kemampuan berpikir. Dengan meminta siswa menulis jurnal berarti melatih mereka melakukan proses berpikir, mereka berusaha mengingat kembali, memilih kejadian mana yang akan diceritakan, dan menyusun informasi yang dimiliki menjadi cerita yang dapat dipahami pembaca.
  8. Meningkatkan kesadaran akan peraturan menulis. Melalui menulis jurnal siswa belajar tata cara menulis, seperti penggunaan huruf besar, tanda baca dan struktur kalimat (tata bahasa). Siswa juga mulia menulis dengan menggunakan topik, judul, halaman, dan subtopik. Mereka juga menggunakan bentuk tulisan yang berbeda, seperti dialog (percakapan) dan cerita bersambung. Semua ini diajarkan tidak secara formal.
  9. Menjadi alat evaluasi. Siswa dapat melihat kembali jurnal yang ditulisnya dan menilai sendiri kemampuan menulisnya. Mereka dapat melihat komentar atau respons guru atas kemajuannya.
  10. Menjadi dokumen tertulis. Journal writing dapat digunakan siswa sebagai dokumen tertulis mengenai perkembangan hidup atau pribadinya. Setelah mereka dewasa, mereka dapat melihat kembali hal-hal apa yang pernah anggap penting pada waktu dulu.
Sustained silent reading
Komponen Whole Language yang ketiga adalah sustained silent reading (SSR). SSR adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan dibavanya. Biarkan siswa untuk memilih bacaan yang sesuai dengan kemampuannya sehingga mereka dapat menyelesaikan membaca bacaan tersebut.
Guru dapat memberi contoh sikap membaca dalam hati yang baik sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan membaca dalam hati untuk waktu yang cukup lama. Pesan yang ingin disampaikan kepada siswa melalui kegiatan ini adalah :
  1. Membaca adalah kegiatan penting yang menyenangkan.
  2. Membaca dapat dilakukan oleh siapapun.
  3. Membaca berarti kita berkomunikasi dengan pengarang buku tersebut.
  4. Siswa dapat membaca dan berkonsentrasi pada bacaannya dalam waktu yang cukup lama.
  5. Guru percaya bahwa siswa memahami apa yang mereka baca.
  6. Siswa dapat berbagi pengetahuan yang menarik dari materi yang dibacanya setelah kegiatan SSR berakhir.
Shared reading
Komponen Whole Language yang keempat adalah shared reading. Shared reading ini adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa dimana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya. Kegiatan ini dapat dilakukan baik di kelas rendah maupun di kelas tinggi. Ada beberapa cara melakukan kegiatan ini, yaitu :
  1. Guru membaca dan siswa mengikutinya (untuk kelas rendah).
  2. Guru membaca dan siswa menyimak sambil melihat bacaan yang tertera pada buku.
  3. Siswa membaca bergiliran.
Maksud kegiatan ini adalah :
  1. Sambil melihat tulisan, siswa berkesempatan untuk memperhatikan guru membaca sebagai model.
  2. Memberikan kesempatan untuk memperlihatkan keterampilan membacanya.
  3. Siswa yang masih kurang terampil dalam membaca mendapat contoh membaca yang benar.
Dalam hal ini, anda telah melakukan shared reading. Sebaiknya anda meneruskan kegiatan ini dengan melibatkan keterampilan lain, seperti berbicara dan menulis agar kegiatan Anda menjadi kegiatan berbahasa yang utuh dan riel.
Guided reading
Komponen Whole Language yang kelima adalah guided reading. Tidak seperti pada shared reading, dimana guru lebih berperan sebagai model dalam membaca, dalam guided reading atau disebut juga membaca terbimbing, guru menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama. Guru melemparkan pertanyaan yang meminta siswa menjawab dengan kritis, bukan sekedar pertanyaan pemahaman. Kegiatan ini merupakan kegiatan membaca yang penting dilakukan di kelas.
Guided writing
Komponen Whole Language yang keenam adalah guided writing atau menulis terbimbing. Dalam menulis terbimbing peran guru adalah sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaiman menulisnya dengan jelas, sistematis dan menarik. Guru bertindak sebagai pendorong bukan pengatur, sebagai pemberi saran bukan pemberi petunjuk. Dalam kegiatan ini proses writing, seperti memilih topik, membuat draft, memperbaiki, dan mengedit dilakukan sendiroi oleh siswa.
Independent reading
Komponen Whole Language yang ketujuh adalah independent reading. Independent reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca, dimana siswa berlesempatan untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. Membaca bebas merupakan bagian integral dari Whole Language. Dalam independent reading siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga peran guru pun berubah dari seorang pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan menjadi seorang pengamat, fasilitator, dan pemberi respons. Menurut penelitian yang dilakukan Anderson dkk (1988), membaca bebas yang diberikan secara rutin walaupun hanya 10 menit sehari dapat meningkatkan kemampuan membaca pada siswa.
Dalam memperkenalkan buku, sebaiknya anda juga membahas tentang pengarang dan ilustrator yang biasanya tertuis di halaman akhir. Jika tidak ada keterangan tertulis tentang pengarang atau ilustrator, anda paling tidak dapat menyebutkan nama-nama mereka atau tambahkan sedikit informasi yang anda ketahui. Hal ini penting dilakukan agar siswa sadar, bahwa sesungguhnya buku itu ditulis oleh manusia bukan mesin.
Buku yang dibaca siswa untuk independent reading tidak selalu harus didapat dari perpustakaan sekolah atau kelas atau disiapkan guru. Siswa dapat saja mendapatkan buku daru berbagai sumber seperti perpustakaan kota/kabupaten, buku-buku yang ada di rumah, di toko buku, pinjam teman atau dari sumber lainnya.
Independent writing
Komponen Whole Language yang kedelapan adalah independen writing atau menulis bebas, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dalam menulis bebas siswa mempunyai kesempatan untuk menulis tanpa ada intervensi dari guru. Siswa bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses menulis. Jenis menulis yang termasuk dalam independent writing antara laian menulis jurnal, dan menulis respons.
Jangan mencoba menerapkan semua komponen sekaligus karena akan membingungkan siswa. Contoh dengan satu komponen dulu dan perhatikan hasilnya. Jika siswa telah terbiasa menggunakan komponen tersebut kemudian mencoba lagi menerapkan komponen yang lain.
Ciri-Ciri Kelas Whole Language
Ada tujuh ciri yang menandakan kelas Whole Language. Pertama, kelas yang menerapkan Whole Language penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut tergantung di dinding, pintu, dan furniture. Label yang dibuat siswa ditempel pada meja, kabinet, dan sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan bulletin board. Karya tulis siswa dan chart yang dibuat siswa menggantikan bulletin board yang dibuat guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakaan yang dilengkapi berbagai jenis buku.
Kedua, di kelas Whole Language siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Over Head Projector (OHP) dan transparansi digunakan untuk memperagakan proses menulis. Siswa mendengarkan cerita melalui tape recorder untuk mendapatkan contoh membaca yang benar.
Ketiga, di kelas Whole Language siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya. Agar siswa dapat belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya maka di kelas tersedia buku dan materi yang menunjang.
Keempat, dikelas Whole Language siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas Whole Language lebih sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab  yang biasanya dilakukan guru. Siswa membuat kumpulan kata (words banks), melakukan brainstorming dan mengumpulkan fakta. Pekerjaan siswa ditulis pada chart dan terpampang di seluruh ruangan. Siswa menjaga kebersihan dan kerapian kelas.
Kelima, di kelas Whole Language siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang membantu mengembangkan rasa tanggung jawab dan tidak tergantung. Siswa terlibat dalam kegiatan kelompok kecil atau keinginan individual.
Keenam, di kelas Whole Language siswa berani mengambil resiko dan bebas bereksperimen. Guru di kelas Whole Language menyediakan kegiatan belajar dalam berbagai tingkat kemampuan sehingga semua siswa dapat berhasil. Hasil tulisan siswa dipajang tanpa ada tanda koreksi. Contoh hasil kerja setiap siswa terpampang di seputar ruang kelas.
Ketujuh, di kelas Whole Language siswa mendapat balikan (feedback) positif baik dari guru maupun temannya. Ciri kelas Whole Language, bahwa pemberian feedback dilakukan dengan segera. Meja ditata berkelompok agar memungkinkan siswa berdiskusi, berkolaborasi, dan melakukan konferensi. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respons positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri.
Penilaian dalam Kelas Whole Language
Di dalam kelas Whole Language, guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang dilakukan siswa. Secara informal, selama pembelajaran berlangsung, guru memperhatikan siswa menulis, mendengarkan siswa berdiskusi baik dalam kelompok ataupun diskusi kelas. Ketika siswa bercakap-cakap dengan temannya atau dengan guru, penilaian juga dilakukan, bahkan guru juga memberikan penilaian saat siswa bermain selama waktu istirahat.

b)    Pendekatan Kontruktivisme
Kontruktivisme adalah salah satu filsafat pengtahuan yang menekanan bahwa pengetahun kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glasersfeld, 1989, Matthews, 1994, dalam Suparno, 1997). Pengetahuan merupakan ciptaan manusia yan direkonstruksikan dari pengalaman atau dunia sejauh yang dialaminya. Proses pembentukn ini berjalan secara tersu menerus dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru (Piage dalam Suparno, 1997).
c)    Pendekatan komunikatif
Pendekatan komunikatif dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi (yang selanjutnya disebut kompetensi kounikasi), yaitu kemampuan menggunakan bahasa untuk berkomnikasi dalam konteks yang seutuhnya. Kegiatan utama dalam kegiatan belajar mengajar bahasa yang menggunakan pendekatan komunikatif berupa latihan-latihan yang langsung dapat mengembangkan kompetensi komunikasi yang dimiliki pembelajar, tidak hanya menguasai bentuk-bentuk bahasa, tetapi sekaligus menguasai bentuk, makna, serta pemakaiannya.
d)    Pendekatan Tematis-Integratif
Yang dimaksud dengan Pendekatan Tematis-Integratif adalah pembelajaran bahasa harus dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang sewajarnya. Pengorganisasian materi tidak diwujudkn dalam bentuk pokok bahasan secara terpisah, tetap diikat dengan menggunakan tema-tema tertentu dengan menganut asas kesederhanaan, kebermaknaan dalam komunikasi, kewajaran konteks, keluwesan (disesuakan dengan kebutuan, kondisi, dan tempat), keterpaduan, dan kesinambungan berbagi segi dan keterampilan bahasa.
e)    Pendekatan keterampilan proses
Pendekatan keterampilan proses diartikn sebagai pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan mental, fisik, dan sosial sebagai enggerk kemampuan yang lebih tinggi dalam individu siswa. Cara pandang ini diterjemahkan dalam kegiatan belajar-mengajaryang sekaligus memperhatkan pengetahuan, sikap dan nilai, serta keterampialan. Ketiga ranah ini menyatu dalam diri siswa dalam bentuk kreatifitas. Tujuan pokok dari pemakaian keterampilan proses adalam mengambangkan kreativitas seswa dalam belajar, sehingga siswa daat secara aktif mengolah dan mengembangkan hasil perolehan/belajarnya (Dikbud. 1985).
f)     Pendekatan pengajaran dan pembelajaran kontekstual (CTL)
B.           Metode
a.            Pengertian metode pembelajaran
Metode didefinisikan sebagai keseluruhan rencana, pengaturan, penyajian bahan yang tertata rapi berdasarkan pada suatu pendekatan tertentu, metode ini bersifat prosedural, Ricards (1996:15)
b.            Macam-macam metode
1)            Metode kooperatif
Metode kooperatif adalah serangkaian aktifitas pembelajaran yang diorganisasikan sedemikian rupa sehingga pembelajaran tersebut difokuskan pada pertukaran informasi terstruktur antara pembelajaran dalam grup yang bersifat sosial dan masing-masing pembelajaran bertanggungjawab penuh atas pembelajaran yang mereka jalani.
a)    Saling ketergantungan
b)    Tanggung jawab perseorangan
c)    Tatap muka
d)    Komunkasi antar anggota
e)    Keberagaman pengelompokan
·         Pengelomokan heterogen
·         Penumbuhan semangat dan motivasi untk kerja sama
·         Penataan ruang kelas
2)           Metode SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)
Metode SAVI merupakan suatu prosedur pembelajaran yang didasarkan atas aktivitas-aktvitas yang dilakukan oleh pembelajaran dengan melibatkan seluruh indra sehingga seluruh tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar.
Unsur-unsur metode SAVI :
a)    Belajar Somatis
Dalam konteks pembelajaran bahasa berarti belajar bahasa dengan memanfaatkan indara peraba dan kinstetik yang melibatkan fisik untuk melakukan suatu aktifitas.
b)    Belajar Auditori
Ditekankan kepada aktifitas mendengarkan suara-suara melalui dialog-dialog yang tercipta dikelas baik anatar pembelajar maupun dengan guru secara langsung atau dari alat-alat radio.
c)    Belajar Visual
Menuntut ketersediaan berbagai bentu alat media yang dapat diamati secara langsung oleh pembelajar untuk kemudian membicarakannya dalam bentuk lisan atau tulisan.
d)    Belajar Intelektual
Dalam konteks ini dimaknai sebagai apa yang dilakukan dalam pikiran pembelajar secara interal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan mencitakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut.
3)           Metode permainan atau games
Merupakan serangkaian prosedur pembelajaran bahasa yang difasilitasi dengan berbagai permainan untk mencapai suatu tujuan berbahasa.
4)           Metode inkuiri
Merupakan metode pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan pembelajaran untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis sehingga pembelajar dapat merumuskan sendiri berbagai penemuan atas berbagai persoalan dengan penuh percaya diri.
Tiga sasaran utama yang hendak dicapai dalam metoe ini, yaitu :
a.    Keterlibatan pembelajar secara maksimal dalam keseluruhan proses belajar.
b.    Keterarahan kegiatan secara logistis dan sistematis pada kompetensi yang hendak dicapai.
c.    Mengembangkan rasa percaya diri pada pembelajar atas proses dan temuan yang mereka jalani dan haplkan.
5)            Metode Pembelajaran Berbsis Perpustakaan (PBP)
Merupakan suatu prosedur pebelajaran yang secara masksimal emanfaatkan sumber-sumber kepustakaan untuk pencapaian seperangkat tujuan belajar bahasa. Sumber-sumber belajar dapat berua buku-buku, majalah, CD, kaset audio, kset vidio, dan lain-lain.
C.           Teknik dalam pembelajaran
a.            Pengertian teknik pembelajaran
Pendekatan teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar yang telah disusun (dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut. Teknik yang danu oleh guru bergantung pada kemampuan guru itu untuk mencari akal atau siasat gar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan berasil dengan baik dalam menentuan teknik pembelajaran ini, guru perlu mempertmbangkan situasi kelas, lingkungan, kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi-kondisi lain. Dengan demikian teknik pembelajaran yang digunakan guru dapat bervariasi sekali. Untuk metode yang sama dapat digunakan teknk ang berbeda-beda, bergantung pada berbaga faktor tersebut.
Teknik pembelajaran adalah siasat yang dilakukan oleh guru dalam melaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk memperoleh hasil yang optimal.
b.            Macam-macam teknik
Teknik dari pendekatan komuniatif
a)    Memberikan informasi secara terbatas
Contoh:
Mengidentifikas gambar
Dua orang siswa ditugasi mengadakan percakapan (bertnya jawab) tentang benda-benda yang terdapat didalam gambar yang disediakan oleh guru. Pertanyaan dapat mengenai warna, jumlah, bentuk, dan sebagainya.
b)    Memberikan informasi tanpa dibatasi (tak terbatas)
Contoh:
Menemukan perbedaan
Siswa A dan B masing-masing mempunyai sebuah gambar yang sama, kecuali beberapa bagian. Para siswa harus mendiskusikan gambar tersebut sehingga menemukan perbedaannya.
c)    Mengumpulkan informasi untuk memecahkan masalah
Contoh:
Siswa mempunyai rencana akan mngunjungi sebuah kota yang menarik. B mempunyai daftar/jadwal bus. Merea harus merencanakan perjalanan yang akan dilakukan yang memungkinkan mereka untuk mengunjungi beberapa tempat dalam satu hari, dan menggunakan waktu sekurang-kurangnya setengah jam untuk setiap tempat. Siswa harus memilih tempat yang paling menarik bagi mereka.
d)    Menyusun informasi
Contoh:
Siswa diminta membayangkan bahwa mereka akan mengadakan kemah di gunung selama tiga hari. Tiap anggota hanya boleh membawa barang kira-kira seberat 11 Kg. Kelompok-kelompok itu harus menentukan apa saja yang akan mereka bawa, dengan melihat daftar barang yang patut dibawa, yang diberikan oleh guru, dan mempersiapkan pembelaan apabila mereka ditentang oleh kelompok lain. Latihan-latihan tersebut merupakan latihan penggunaan bahasa dalam akifitas komunikasi yang bersifat fungsional di dalam kelas. Disamping itu, juga terdapat tie aktifitas komunikatif yang lain, yani aktifitas interalsi sosial, interaksi didalam masyarakat atau dalam pergaulan. Dalam hal ini latihan yang diberikan kepada siswa antara lain dapat berupa:
1.    Kels sebagai konteks sosial
2.    Simulasi dan bermain peran

D.           Prosedur
Prosedur merupakan tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas; metode langkah demi langkah secara pasti dalam memecahkan suatu masalah. Sdangkan pembeljaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup besar. Strategi pembelajaran adalah suatu pola umum yang dapat menggambarkan kegiatan guru dan peserta didik dalam pembelajaran. pengertian strategi dalam hal ini menunjukan kepada karakteristik abstrak dari serangaian kegiatan pengajaran dan peserta didik dalam proses pembelajaran secara aktual tertentu dinamakan prosedur pembelajaran.
Serangkaian kegiatan pengajar dan pesrta didik dalam proses pembelajaran secara aktual. Tingkatan terakhir dari konseptualisasi dan organisasi didalam suatu metode disebut prosedur, Tarigan (1989:22). Prosedur mencakup teknik-teknik, praktek-praktek dan perilaku-perilaku dari saat ke saat yang aktual yang beroperasi dalam mengajarkan sesuatu bahasa berdasarkan metode tertentu.
















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Apabila pendekatan, model, teknik dan prosedura pembelajaran bahasa sudah terangkai dalam satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut model pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bngkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, teknik, dan prosedur pembelajaran.
























DAFTAR PUSTAKA

Hapipudin Sarma, Drs., M.MPd. (2012). Bahan Ajar Pembinaan Dan Pengembangan Pembelajaran Bahasa San Sastra Indonesia. Cirebon: Universitas Muhammadiyah Cirebon

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar